55 

Bulan Ramadan Momentum Penyadaran Pentingnya Pendidikan Anak

Oleh: Dewi Ulya Mailasari, SS., MA.
Dosen IAIN Kudus

 

Ramadan tahun ini kita lalui di tengah Pandemi Covid-19 yang membuat kita semua harus menjaga jarak fisik satu sama lain dan melakukan aktivitas bekerja dan belajar dari rumah. Bagaimana puasa di tengah kondisi seperti ini kita tetap mampu meraih hikmah, utamanya hikmah ruhaniyah di diri kita. Kondisi harus di rumah selama lebih dari 2 bulan tentu memunculkan kejenuhan, dan tekanan mental tersendiri bagi kita semua. Kesehatan mental menjadi penting. Perubahan tersebut, menjadi tantangan yang menarik untuk digali, bagaimana peran orangtua ayah dan ibu dalam masa sekarang ini membimbing keluarga, beribadah, beraktivitas dari rumah. Ayah yang semula menjadi tulang punggung keluarga, lebih banyak di luar rumah mencari nafkah, untuk sementara harus berada di rumah, dan menjadi tahu segala polah tingkah putra-putrinya di rumah. Di saat bulan Ramadan inilah  ujian menempa keikhlasan, kesabaran dan rasa syukur mendapatkan moment nya. Allah seperti menyadarkan para orang tua, ayah dan ibu untuk bersama-sama mengasuh anak, mengajarkan ketaatan kepada Allah melalui aktivitas sholat berjamaah tepat waktu, lebih sering membaca Al-Qur’an, ibadah puasa, tarawih, shodaqoh, mencari ilmu, dan mengerjakan tugas rumah secara bersama-sama. Terasa sekali pengasuhan anak kini menjadi tugas bersama antara ayah dan ibu.

Dengan kondisi mengharuskan stay at home, ayah mulai mengambil peran dalam mendidik putra-putrinya khususnya berpuasa. Ayah diharapkan menjadi pribadi yang menginspirasi putra-putrinya. Agar semua saran dan kata-katanya didengarkan oleh anak, seorang ayah harus mempunyai 2 kualitas karakter, pertama, ayah harus punya makna bagi anak. Tidak hanya mencari nafkah di luar rumah, tetapi bagaimana ayah membangun komunikasi, sering berdiskusi, mengobrol dengan anak sehingga membangun  kedekatan dan rasa bahwa sosok ayah memang ada dan peduli bagi si anak, dan karenanya anak akan merasa dirinya berharga. Kedua,  ayah harus menjadi teladan. Setelah ayah bisa menjelaskan makna puasa, alasan mengapa seorang Muslim harus berpuasa, dan muncul kedekatan antara ayah dan anak, maka ayah mulai mencontohkan dalam sikap dan perbuatan apa yang dinasihatkan tadi. Tanpa contoh dan tindak nyata, barangkali anak  pun tidak bisa melakukan ibadah yang diperintahkan oleh agama. Maka pada bulan Ramadan ini, ayah mampu berperan sebagai ayah fisik, ayah psikologi, sekaligus ayah rohani bagi anak-anak.

Telah diajarkan oleh agama bahwa sesungguhnya tugas mendidik anak dilakukan baik oleh ayah maupun ibu, tidak bisa hanya salah satu pihak saja. Ada peran ayah yang tidak bisa dikerjakan oleh ibu, dan begitu juga sebaliknya.

Menurut pakar parenting Najeela Shihab, ada 4 peran ayah dalam keluarga yaitu, sebagai teman bermain (player), pendidik (teacher), pelindung (protector), membantu ibu (partner). Ketika ibu sibuk merawat bayi agar bertahan hidup, ayah yang akan memikirkan masa depannya. Jika ibu penuh khawatir akan keselamatan anaknya ketika bermain, di sisi lain ayah yang mendorong anak agar berani mengambil resiko sambil tetap mengawasi dari jauh. Jika ibu mengedepankan kasih sayang, ayah mengajarkan kedisiplinan. Dengan masing-masing menjalankan perannya maka sesungguhnya kita telah membentuk kesehatan mental yang seimbang dalam diri anak sehingga menjadi insan yang sukses, sejahtera fisik dan mentalnya. Lahan ibadah terbesar dalam Ramadan tahun ini, ada dalam mendidik anak-anak kita. Semoga kita mampu menjadi pribadi yang benar-benar ikhlas, sabar, dan bersyukur. 

Sumber: Suara Merdeka 

 

 

 




Agenda Kegiatan
  • Rapat Dalam Kantor (Penyelarasan Penyusunan Kurikulum KKNI)

    +

Video

Back to Top